PILPRES INI MELUKAI IBU PERTIWI
Apakah PILPRES ini memecahkan kita?
Mendekati pesta demokrasi Indonesia membuat semakin memanasnya Parpol (Partai Politik) bersaing satu sama lain memenangkan kandidatnya agar duduk dikursi pemerintahaan. Mereka berlomba-lomba menebarkan citra baik kemasyarakat untuk mencari massa pendukung. Tepat pada pesta demokrasi tahun 2019 yang juga menjadi pergantian masa pemerintahan presiden Indonesia, jadi warga Indonesia harus memilih calon pemimpin berikutnya. Calon presiden yang menghiasi tahun ini adalah pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan nomor urut 01 serta Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan nomor urut 02. Pasangan 01 menggandeng koalisi partai PDIP, PKB, Golkar, Perindo, NasDem, Hanura, PKPI, PSI, dan PPP. Sedangkan pasangan 02 berkoalisi dengan partai Partai Gerinda, Demokrat, PKS, PAN Partai Berkarya.
Kedua pasangan tersebut berlomba-lomba untuk mendapat simpatisan masyarakat Indonesia dengan berbagai rancangan program kerja mereka. Acara debat Capres-Cawapres merupakan acara yang ditunggu-tunggu masyarakat untuk mengetahui lebih dalam tentang calon presiden dan wakilnya. Melalui acara debat juga terlihat bagaimana ekspresi spontanlitas masing-masing pasangan yang bisa menggambarkan sifat asli mereka dalam menjawab debat yang diberikan. Saya sebagai masyarakat yang melihat debat tersebut merasa kurang puas dengan tanggapan kedua kandidat tersebut, dan bukan hanya saya ternyata teman-teman saya atau dikalangan generasi millennial (remaja) juga merasakan hal yang sama, seperti kedua kandidat tersebut tidak ada yang benar dan cenderung memecah belah masyarakat Indonesia menjadi Pro-Pancasila dan Pro-NKRI bersyariah.
“Hasil Penelitian Lingkar Survei Indonesia (LSI), menurut Ardian yang melibatkan 1.200 responden acak di Indonesia selama periode 28 Juni hingga 5 Juli 2018.
Hasilnya, 75,3% responden mendukung Pancasila, 13,2% responden ingin Indonesia menjadi negara berazazkan Islam, dan 11,5% responden tidak tahu atau tidak menjawab.”
Mengapa opini publik mengatakan demikian sebab, semenjak kejadian Gerakan 212 yang sukses mengalahkan Ahok berpengaruh hingga keranah politik Indonesia. Sehingga membuat kedua kandidat Jokowi dan Prabowo yang seharusnya berstrategi politik, kini mereka lebih memfokuskan dan mengakomodatif tentang masalah-masalah Islam. Hal ini terlihat pada kedua kandidat yang mana Jokowi menunjuk Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yaitu Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya serta mengunjungi pesanten-pesantren, sedangkan Prabowo merangkul aktivis konservatif yaitu Habib Rizieq Shihab, pendiri Front Pembela Islam (FPI), dan Amien Rais, seorang pemimpin Muhammadiyah dan pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) serta menunjuk cawapresnya yaitu Sandiaga Uno yang merupakan pengusaha Muslim muda dalam Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Melihat fenomena tersebut menimbulkan politik identitas negatif karena mengarah pada SARA. Dan kini pada 7 April 2019 masing-masing kandidat melakukan kampanye dari Prabowo-Sandi mengadakan Kampanye Akbar 02 di GBK yang dihadiri beberapa tokoh serta massa yang berseragam putih, sedangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf melakukan kampanye akbar dengan Karnaval Indonesia Satu di Kota Tangerang, Banten.
Dalam benat, sejujurnya saya tidak begitu suka dengan strategi kedua kandidat itu karena mengatas namakan Agamais terutama Islam dalam mengumpulkan massa, seakan terlihat jelas unsur SARA padahal Indonesia harus berpegang teguh dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi kita satu kesatuan dan tidak boleh NKRI menjadi Negara yang berbecah belah menjadi Negara Agama ataupun Negara Komunis. Istilah Negara Agama atau Negara Komunis juga tercipta dari para pendukung kedua kandidat yang mengidentikkan Jokowi sebagai komunis dan Prabowo dengan kilafah ataupun radikal. Tak hanya itu, istilah yang berlaku pada kedua kandidat di sosial-media adalah cebong (Jokowi) dan kampret (Prabowo), padahal hal tersebut tidak baik. Tentunya hal itu membuat rakyat terbakar akan emosionalnya yang berujung saling membenci dan memusuhi saudara-saudaranya yang berbeda politik. Seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia bersatu serta menjaga keutuhan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan hasil perjuangan cita-cita para leluhur kita.
Sebagai kaum millennial, banyak yang menyayangkan strategi yang dilakukan kedua kandidat tersebut, serta banyak diantara kaum millennial yang ragu untuk memilih diantara kedua kandidat tersebut. Mereka kecewa dan merasa kedua kandidat tersebut kacau tidak bisa membuat Indonesia lebih baik karena mereka mengedepankan keIslaman dalam mengumpulkan massa, dan banyak massa yang didalamnya hanya ikut-ikutan maupun terpengaruh pemimpin kelompoknya, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan yang membuat sikap kritis mereka tidak ada. Padahal seharusnya kita juga berfikir kritis demi masa depan Indonesia tercinta ini, tapi apapun keputusan pemenang Pilpres nanti kita doakan semoga negeri Indonesia ini menjadi lebih baik dan mengayomi masyarakat menjadi satu kesatuan sesuai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika… Aamiin.. ☺️🙏🙏




Komentar
Posting Komentar