Krisis Dampak ROBOT JOURNALISM


Perkembangan teknologi semakin pesat diranah kehidupan manusia tak terkecuali diranah jurnalistik online. Sejarah jurnalistik sejak dahulu menggunakan cara tradisional menggunakan mencari untuk ide berita yang dituangkan melalui surat kabar, kemudian pada abad ke-17 menggunakan teknologi mesin cetak yang merintis lahirnnya jurnalisme modern, selain bentuk cetak kegiatan jurnalistik terkemas dalam bentuk radio dan televisi. Namun dengan maraknya era digital yang melibatkan peran internet, sehingga membuat manusia lebih sering menggunakan gadgetnya yang membuat media cetak putar otak dan membuka portal berita melalui media online. Melalui portal media online, para jurnalis dituntut untuk mampu mengolah produksi informasi (menulis banyak berita) secara terus-menerus karena persaingan antar media dari kecepatan mengakses konsumen melalui klik saja sudah dapat memasuki laman tersebut. Disamping kesibukan jurnalis online tersebut, pada tahun 2014 diluncurkan Artificial Intelligence (AI) atau yang lebih dikenal Robot Jurnalism yang akan membantu kinerja jurnalis.  Pada kali ini akan dibahas mengenai krisis tentang pengaruh Robot Jurnalistik terhadap manusia sebagai jurnalis, Apakah akan menggantikan peran kinerja manusia? Serta Apakah dengan presisi robot masih akan memunculkan kesalahan berita?

ROBOT JURNALISM

Robot Jurnalism atau Jurnalis Robot adalah perangkat lunak yang mampu menginterpretasi dan mengolah data menjadi berita yang runtut dengan penyusunan algoritma. Menurut Matt Carlson, jurnalisme robot adalah proses algoritmik yang mengubah data menjadi teks berita (naratif terbatas) dan tidak adanya intervensi manusia di luar pemograman awal kecuali menginput data dan membuat “template” berita. Untuk memproduksi berita, robot jurnalism ini menggunakan konsep AI (Artificial Intelligence) yaitu Machine Learning (ML) yang berfokus pada pengenalan pola dan pembelajaran kecerdasan buatan dan Natural Language Processing (NLP) yang memproses bahasa manusia dan linguistik. Robot jurnalism juga menggunakan big data untuk database robot jurnalism membuat berita. Keunggulan robot jurnalism yaitu berpotensi mengolah dan menganalisis data serta mampu menulis banyak berita tanpa kenal lelah sehingga menguntungkan media. 



Pada tahun 2014 kemarin peluncuran robot jurnalism dengan konsep AI digunakan beberapa kantor berita, yaitu kantor berita Associated Press (AP) untuk merilis artikel laporan keuangan, kantor berita LA Times menggunakannya untuk melaporkan peringatan gempa bumi, 2016 melalui teknologi Heliograf  kantor berita Washington Post memproduksi berbagai macam laporan singkat mengenai Olimpiade Rio de Janerio, 2018 kantor berita Xinhua, dan di Indonesia kantor Beritagar memulai peluncuran robotorial pada 25 Februari 2018 yang ditulis 100% oleh robot dengan laporan pertandingan Liga Inggris antara Leicester Vs Stoke City yang berakhir imbang.  Jurnalis Robot dapat membuat berita yang sifatnya statis/ stabil dari data yang konsisten maupun historikal, seperti berita hasil pertandingan, saham, data cuaca dan kebencanaan, tanggal jatuhnya Ramadhan maupun hari raya, dll. 


Apakah jurnalis robot akan menggantikan peran kinerja manusia? 
Menurut saya, untuk sekarang sistem robot jurnalism belum 100% menggantikan peran kinerja manusia, sebab sifat jurnalis robot yang masih kaku dalam mengolah berita. Bagi saya peran robot jurnalism sangat baik sebagai asisten jurnalis (manusia) karena dapat melakukan filterisasi dan menulis berita baru dengan cepat yang bersumber dari segala info di internet, hal ini dapat mengefesiensi waktu. 

Seperti robot jurnalis Beritagar.id yang bernama Petruk yang mengolah SPOK berita, relevasi berita, membaca isu, maupun kelengkapan berita dari artikel yang terkait, setelah robot Petruk melaksanakan tugas kemudian pihak redaksi bertugas memoles atau menyempurnakan berita yang ditulis Petruk dengan perspektif yang memiliki sudut pandang. Serta redaksi juga terjun ke lapangan untuk melakukan verifikasi data agar tidak terjadi perbedaan data. Peran manusia sangat mendukung sistem robotorial sangat melekat seperti peran programmer, data scientist, serta jurnalis untuk mengawasi kinerja robot journalism. 

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa, jika dimasa depan para ilmuan komputer telah bisa menemukan perangkat lunak generasi berikutnya yang lebih canggih dan bisa mengolah berita secara sempurna dan lugas layaknya manusia, maka dapat mengganti seutuhnya peran manusia dalam kegiatan jurnalis.


Apakah dengan presisi robot masih akan memunculkan kesalahan berita?

Bisa saja terjadi jika data yang diterima oleh robot jurnalism keliru, hal ini dikarenakan robot adalah mekanisme yang mutlak sehingga apa yang ada didalam data tersebut tidak bisa dipungkiri maka dari itu peran manusia masih dibutuhkan untuk memverifikasi data ke lapangan agar mendapat hasil data yang akurat dan tidak berbeda dari pencarian. Hal ini dapat diminimalisir dengan menyempurnakan performa yang lebih baik sistem mechine learning agar dapat meminimalisir kesalahan meski tahap ini masih dalam proses.



Sumber :
Admin. 2015. “Memasuki Era Robot Journalism” dalam https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/nuv2478 diakses  pada 18 Mei 2019 pukul 22:30 WIB.

Amran Oktika Sri dan Irwansyah. 2018. “Jurnalism Robot dalam Media Daring Beritagar.id” dalam https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://jurnal.kominfo.go.id/index.php/iptekkom/article/download/169-182/pdf&ved=2ahUKEwjXqrbzhKfiAhUdk3AKHSguALkQFjABegQIBhAF&usg=AOvVaw2QD3RCQ_TWJEv7cMQZmC9M&cshid=1558249844042 diakses pada 18 Mei 2019 pukul 20:00 WIB.

Razaki, Eko. 2018. “Praktik Jurnalisme Robot Sanjakala Jurnalis?” dalam http://www.remotivi.or.id/amatan/481/Praktik-Jurnalisme-Robot,-Senjakala-Jurnalis? diakses pada 18 Mei 2019 pukul 22:25 WIB

Komentar

Postingan Populer